Sabtu, 25 Februari 2012

Bidik Misi, oh.. Bidik Misi..

Beasiswa bidik misi merupakan beasiswa dari Direktorat Pendidikan Tinggi Nasional kepada mahasiswa miskin berprestasi di seluruh universitas negeri di Indonesia. Informasi: www.bidikmisi.dikti.go.id. Beasiswa ini pertana kali diselenggarakan pada tahun 2010.. Memang, beasiswa bidik misi merupakan beasiswa yang nominalnya terbesar di kampus ini. Di tahun 2012 ebanyak 500 mahasiswa  yang mendapat beasiswa di universitas saya, dan saya adalah yang termasuk didalamnya.
Pada jaman sekarang ini, siapa yang tidak mau kuliah gratis di universitas negeri ? Saya yakin, jarang mahasiswa yang menolak apalagi dengan keadaan ekonomi yang serba kurang mencukupi. Sehingga yang terjadi sekarang ini adalah banyak orang yang mengaku miskin atau memiskinkan diri. Berusaha mendapatkan surat keterangan tidak mampu dari desa agar dapat mengikuti seleksi Bidik Misi. Fakta yang sering saya dengar dan cukup menyayangkan adalah mereka tidak mau melanjutkan kuliah hanya karena tidak lolos bidik misi, rela meninggalkan universitas yang selama ini telah diperjuangkannya. Satu alasan yang dipegangnya dengan begitu erat “saya anak yang tidak mampu, takut bayar, lebih baik saya mengundurkan diri saja.” Hati saya ngiris mendengar perkataan ini. Sebenarnya, tidak hanya beasiswa bidi misi sajayang ditawarkan dalam universitas saya. Banyak beasiswa yang ditawrakan, seperti BBM, PPA, Supersemar, dsb. Semua beasiswa itu digunakan untuk menjadi suatu sarana motivasi mahasiswa dalam menempuh jenjang studinya. Jadi, tidak ada alasan meninggalkan bangku kuliah hanya karena masalah biaya. Kita hidup tidak sendiri, dan hidup ini sederhana, jika merasa rumit, kalau bukan kita sendiri penyebabnya, siapa lagi?
Lantas, sebenarnya apa esensi kita kuliah? Apa tujuan kuliah? Apa karena ngejar ketenaran universitas dan prodi? Atau hanya karena ingin meraih karir semata? Ingat, ketenaran, karir, bukan merupakan tujuan yang hakiki dan tidak dibenarkan. Inilah pemikiran orang-orang yang termodinamis. Suatu pola pikir tradisional, selalu mengedepankan hasil akhir dan tanpa memandang proses, akhirnya menghalalkan segala cara demi meraih tujuan akhirnya. Jabatan dipandang sebagai kedudukan struktural dan bukan fungsional. Sehingga muncul istilah kawula dan ratu, yang atas menguasai, sedang yang bawah hanya nurut-nurut saja. Menjiplak, mencontek, plagiarisme, merupakan contoh budaya orang yang mempunyai pola pikir yang termodinamis. Dan ternyata bangsa Indonesia sebagian besar masih memiliki pola pikir seperti ini. Yang mebedakan antara Indonesia dan negara maju terletak pada pola pikrnya. Ketika mereka sedang asyiknya mengembangkan teknologi baru, kita masih sibuk dengan masa lalu kita untuk kita perdebatkan.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya mempunyai pemikiran lain terhadap beasiswa yang saya terima ini dan sedikit-sedikit mulai saya rasakan. Saya bukan tidak mensyukuri atas beasiswa yang saya terima ini, namun sebenarnya sangat bersyukur karena ini merupakan jalan kemudahan bagi saya yang diberikan oleh-Nya. Saya memiliki pemikiran bahwa dengan beasiswa, kita dibuat semakin tidak mandiri, hidup semakin tergantung, tangan kita dibuat selalu menengadah, dan berkurang rasa kemandirian. Karena kebanyakan mahasiswa selalu menunggu turunnya uang untuk membayar berbagai keperluan, dan hanya mengandalkan uang itu saja. Mereka selalu mengeluh tatkala bantuan itu telat datang. Hal ini terbukti status face book Bidik Misi yang selalu rame jika uang belum turun-turun, selalu dan selalu menanyakan satu sama lain “Kapan ya uang kita turun?”. Jika uang sudah turun, diam semuanya. Semoga tetap untuk selalu mengucapkan Alhamdulillah
Ya, semoga ini memang benar-benar anugrah yang dibeikan olehNya kepada saya. Insya Allah, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Jatah saya 4tahun disini, insya Allah, dengan tekad yang kuat dan optimisme yang tinggi, saya bisa menyelesaikan studi saya tepat waktu, dan jika Allah menghendaki, saya ingin mempercepatnya. Amin. (sedikit do'a saya)

Jumat, 24 Februari 2012

Ayo, Belajar Menulis ^.^

Belajar menulis bukanlah suatu perkara mudah. Bukan haya bakat saja yang diperlukan, tetapi juga keinginan dan hasrat yang kuat dalam menulis. Teori yang paling mendasar adalah tulislah apa yang ada pada pikiran atau apa yang sedang diingat. Karena belum terbiasa, mungkin tulisan pertama akan tersendat-sendat. Pikiran menjati buntu atau gelap, seolah-olah tidak ada yang bisa ditulis. Meskipun demikian, jangan takut tulisan jelek atau tidak bisa dimengerti; jangan putus asa, teruslah menulis dan menulis lagi. Apabila rajin dan tekun belajar, kita akan lancar merangkai kata dalam menuangkan gagasan. Intinya, kita terus berlatih. Jangan memikirkan teori menulis sebelum lancar menuangkan gagasan.
Bagaimanapun mahirnya seseorang dalam teori menulis, kalau tidak pernah mempraktikannya atau tidak pernah mencobanya, ia tetap tidak akan bisa menulis. Teori yang sangat mendasar dalam menulis, tulislah apa yang ada dalam benak Anda. Kalau bingung harus bagaimana dan apa yang harus ditulis, tulislah “bingung” atau “saya bingung….” Kemudian kemukakanlah alasan-alasan kebingungan tersebut. Dengan demikian, terbentuklah sebuah tulisan meskipun bukan tulisan yang dikehendaki. Selain itu, Anda akan menemukan kembali apa yang Anda pikirkan. Kali pertama belajar menulis jangan memikirkan dahulu apakah tata bahasa yang kita gunakan benar, pilihan katanya tepat, dan  pembentukan paragrafnya benar; apakah ide kita tertuangkan tepat dan mudah dipahami; jangan mengedit sebelum gagasan kita menuangkan semua. Tulislah apa yang melintas di pikiran Anda. Apabila sudah lancar  merangkai kata, langkah selanjutnya adalah mempelajari teori-teori menulis.
Tingkat kemampuan menulis pada mahasiswa harus sama dengan tingkat pemain sepak bola professional. Bermain bola pada tingkat professional bukan lagi memikirkan bagaimana menendang, menggiring, dan merebut bola, tetapi bagaimana para pemain mengatur variasi serangan, taktik mengecoh lawan, dan strategi mempertahankan gawang sendiri. Begitu juga dalam menulis, mahasiswa seharusnya tidak lagi memikirkan bagaimana merangkai kata, menggunakan ejaan, membuat kalimat, dan membentuk paragraf. Mahasiswa harus sudah bisa mengembangkan gagasan, menentukan tema, topic, judul, membuat kerangka karangan, membuat berbagai jenis karangan, sampai tingkat impovisasi. So, tidak ada kata terlambat dalam menulis.. ^.^

Cintaku, Penyemangatku :)

Ketika banyak orang yang salah memaknai cinta sebagai perusak pendidikan, aku selalu berkata lain.. bagiku cinta itu penyemangat dengan pendidikanku :) , ya walau memang tak dipungkiri, kadang cinta juga lah yang membuatku sedikit terjatuh, namun itu tidak akan terjadi jika kita bisa menjaga cinta itu dengan baik..
Ini alasanku mengapa aku berani menjalani percintaan di tengah-tengah masa studiku..
  • Cinta itu bukan monster yang menakutkan para pelajar :p
          Ketika cinta dimaknai sebagai suatu hal yang lazim, yang wajar, tentu cinta tidak akan se-ngeri itu untuk dijalani..
  • Cinta itu motivasi buat aku :) (makasih ya, sayang :) )
         Ketika sang kekasih kita jadikan motivator, bahkan rival, tentu sangat menarik, bukan?
  • Emosi positif, akan berpengaruh pada hasil belajar. :)
          Banyak para ahli yang berpendapat bahwa anak akan belajar lebih baik jika emosinya positif. Dan tak dapat dipungkiri lagi bahwa emosi positif selalu berkaitan erat dengan perasaan diterima atau dikasihi.
Jadi, menjalin hubungan dalam di tengah2 masa studi nggak masalah kan? :p
asal kita menjalani dengan kegiatan positif, dan selalu ingat, dalam batas wajar :)



ya, ini pilihanku.. AKUNTANSI :)

ada hal yang tidak pernah saya sesali dalam menjalani perkuliahan ini, saya memilih jurusan yang memang PILIHANku,, ya, akuntansi.. mengapa saya suka akuntansi?
Saya sangat sering mendengar alasan ini. Bahkan, ini juga menjadi salah satu faktor pertimbangan saya ketika memilih jurusan akuntansi. Kenyataannya, akuntansi juga penuh dengan hafalan. Mengambil jurusan akuntansi bukan berarti belajar hanya bidang akuntansi saja, tetapi juga materi yang berbau manajemen dan ekonomi secara umum yang mengandung banyak hafalan. Materi jurusan akuntansi juga sebagian menuntut menghafal, meskipun tidak sepenuhnya menghafal tapi juga memahami. Jadi, sangatlah keliru jika menganggap dengan memasuki jurusan akuntansi berarti bisa terlepas dari hafalan.
Akuntansi hanya berisi debet-kredit yang simpel
Mengapa saya memberi penekanan pada kata ‘hanya’ dan ’simpel’? Pertama, jelas, akuntansi tidak hanya berisi debet-kredit. Banyak hal lain yang lebih menarik dan lebih menantang yang dipelajari di akuntansi selain debet-kredit. Bahkan, menurut salah satu dosen saya, masalah debet-kredit hanyalah permasalahan letak kiri dan kanan, tidak lebih. Kedua, jika dipandang sepintas, masalah debet-kredit memang simpel, tetapi kita perlu melihat informasi apa yang diwakili oleh debet-kredit itu. Jika menganggap simpel tapi tidak tahu artinya, sama saja kosong bukan?
Memilih jurusan akuntansi karena ingin terhindar dari segala bentuk materi teknologi informasi
Salah besar! Di zaman yang semakin maju ini, mana mungkin teknologi informasi tidak dibahas sama sekali? Terlebih lagi, bidang kerja lulusan jurusan akuntansi sangat tergantung dengan teknologi informasi. Bayangkan saja apabila seorang lulusan jurusan akuntansi harus membuat laporan keuangan perusahaan tanpa bantuan teknologi, bagaimana jadinya? Jadi, materi teknologi informasi masih menjadi mata kuliah wajib di jurusan akuntansi, setidaknya di fakultas saya. Bahkan, di fakultas saya sekarang, terdapat beberapa mata kuliah yang berbau teknologi sangat kental.
Karena merasa jurusan akuntansi sangat mudah dipelajari dan simpel
Pertama kali mendengar kalimat ini, saya langsung tercengang. Meskipun masih tahun-tahun awal, saya sudah merasa materi jurusan akuntansi bukanlah hal yang sangat mudah dan simpel. Bahkan, beberapa teman saya dari fakultas lain, yang belum pernah merasakan, mengatakan bahwa kuliah jurusan akuntansi pasti lebih mudah dari jurusan-jurusan sains, seperti teknik dan kedokteran. Saya tidak menyangkal bahwa jurusan teknik memang susah karena harus berhubungan dengan fisika dan kawan-kawan, begitu pula kedokteran yang harus menghafal begitu banyak kata-kata dalam bahasa antah-berantah. Namun tetap saja, akuntansi bukanlah bidang yang sangat mudah dan simpel! Saya terus menegaskan hal ini karena saya sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Jika masih tidak percaya, silakan tanyakan kepada teman yang mengambil jurusan akuntansi.
Memilih jurusan akuntansi karena kemampuan matematika sangat kuat
Sejujurnya, tidak perlu mahir di bidang matematika untuk menguasai materi akuntansi. Memiliki dasar matematika yang kuat, menurut saya, memang baik untuk membantu proses logika kita karena akuntansi menuntut banyak logika. Namun, kepandaian di bidang matematika itu tidak akan berkembang di sini. Saya rasa, kuliah di jurusan akuntansi hanya membutuhkan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dan untuk menguasai keempat hal tersebut, tidak perlu mahir matematika, cukup bisa saja.
Kesimpulannya saya tidak akan menyesali pilihan saya untuk bergelumut dengan akuntansi karena saya memang benar-benar mencintainya,,,sepenuh hati ^.^