Beasiswa
bidik misi merupakan beasiswa dari Direktorat Pendidikan Tinggi
Nasional kepada mahasiswa miskin berprestasi di seluruh universitas
negeri di Indonesia. Informasi: www.bidikmisi.dikti.go.id.
Beasiswa ini pertana kali diselenggarakan pada tahun 2010.. Memang, beasiswa bidik misi merupakan beasiswa
yang nominalnya terbesar di kampus ini. Di tahun 2012 ebanyak 500 mahasiswa yang
mendapat beasiswa di universitas saya, dan saya adalah yang termasuk
didalamnya.
Pada
jaman sekarang ini, siapa yang tidak mau kuliah gratis di universitas
negeri ? Saya yakin, jarang mahasiswa yang menolak
apalagi dengan keadaan ekonomi yang serba kurang mencukupi. Sehingga
yang terjadi sekarang ini adalah banyak orang yang mengaku miskin atau
memiskinkan diri. Berusaha mendapatkan surat keterangan tidak mampu dari
desa agar dapat mengikuti seleksi Bidik Misi. Fakta yang sering saya
dengar dan cukup menyayangkan adalah mereka tidak mau melanjutkan kuliah
hanya karena tidak lolos bidik misi, rela meninggalkan universitas yang
selama ini telah diperjuangkannya. Satu alasan yang dipegangnya dengan
begitu erat “saya anak yang tidak mampu, takut bayar, lebih baik saya
mengundurkan diri saja.” Hati saya ngiris mendengar perkataan ini. Sebenarnya, tidak hanya beasiswa bidi misi sajayang ditawarkan dalam universitas saya. Banyak beasiswa yang ditawrakan, seperti BBM, PPA, Supersemar, dsb. Semua beasiswa itu digunakan untuk menjadi suatu sarana motivasi mahasiswa dalam menempuh jenjang studinya. Jadi, tidak ada alasan meninggalkan bangku kuliah hanya karena masalah
biaya. Kita hidup tidak sendiri, dan hidup ini sederhana, jika merasa
rumit, kalau bukan kita sendiri penyebabnya, siapa lagi?
Lantas,
sebenarnya apa esensi kita kuliah? Apa tujuan kuliah? Apa karena ngejar
ketenaran universitas dan prodi? Atau hanya karena ingin meraih karir
semata? Ingat, ketenaran, karir, bukan merupakan tujuan yang hakiki dan
tidak dibenarkan. Inilah pemikiran orang-orang yang termodinamis. Suatu
pola pikir tradisional, selalu mengedepankan hasil akhir dan tanpa
memandang proses, akhirnya menghalalkan segala cara demi meraih tujuan
akhirnya. Jabatan dipandang sebagai kedudukan struktural dan bukan
fungsional. Sehingga muncul istilah kawula dan ratu, yang
atas menguasai, sedang yang bawah hanya nurut-nurut saja. Menjiplak,
mencontek, plagiarisme, merupakan contoh budaya orang yang mempunyai
pola pikir yang termodinamis. Dan ternyata bangsa Indonesia sebagian
besar masih memiliki pola pikir seperti ini. Yang mebedakan antara
Indonesia dan negara maju terletak pada pola pikrnya. Ketika mereka
sedang asyiknya mengembangkan teknologi baru, kita masih sibuk dengan
masa lalu kita untuk kita perdebatkan.
Seiring
dengan berjalannya waktu, saya mempunyai pemikiran lain terhadap
beasiswa yang saya terima ini dan sedikit-sedikit mulai saya rasakan.
Saya bukan tidak mensyukuri atas beasiswa yang saya terima ini, namun
sebenarnya sangat bersyukur karena ini merupakan jalan kemudahan bagi
saya yang diberikan oleh-Nya. Saya memiliki pemikiran bahwa dengan
beasiswa, kita dibuat semakin tidak mandiri, hidup semakin tergantung,
tangan kita dibuat selalu menengadah, dan berkurang rasa kemandirian.
Karena kebanyakan mahasiswa selalu menunggu turunnya uang untuk membayar
berbagai keperluan, dan hanya mengandalkan uang itu saja. Mereka selalu
mengeluh tatkala bantuan itu telat datang. Hal ini terbukti status face book
Bidik Misi yang selalu rame jika uang belum turun-turun, selalu dan
selalu menanyakan satu sama lain “Kapan ya uang kita turun?”. Jika uang
sudah turun, diam semuanya. Semoga tetap untuk selalu mengucapkan Alhamdulillah.
Ya, semoga ini memang benar-benar anugrah yang dibeikan olehNya kepada saya. Insya Allah, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Jatah saya 4tahun disini, insya Allah, dengan tekad yang kuat dan optimisme yang tinggi, saya bisa menyelesaikan studi saya tepat waktu, dan jika Allah menghendaki, saya ingin mempercepatnya. Amin. (sedikit do'a saya)


